Angin mendesis disela waktu.
Ia mengatakan. Aku perlu sesuatu yang indah
Untuk kulewati.
Maka aku katakan. Lewati saja otakku.
Disana penuh hal yang indah
Lalu angin berteriak ketakutan
Ia menggigil kedinginan
Raut Raut wajahnya menegang
Dan kuberanikan diri bertanya padanya.
Apa yang terjadi angin yang dingin?
Dia dengan tatih menjawab
Aku tak pernah melalui tempat sengeri itu
Didalamnya penuh dendam
Didalamnya penuh amarah
Kelicikan meliar dimana-mana
Berselimut pikiran kotor
Apa pekerjaanmu?
Dengan malu aku berkata
Aku seorang Hakim
Angin lalu terdiam dan berkata
Berhentilah menjadi Hakim.
Karena kau tak pantas membawa keadilan.
Berhentilah… sebaiknya kau menjadi dirimu
Angin telah membuatku malu dalam sekejap
AnginĀ mematikan nyawaku dalam sejengkal kata
By Ayuna Kusuma




Home
Ok Rek
Testimoni
Program butik online tanpa modal
Produk Duwur
Martapura
Batik Unik
Batik Tulis
You’re the graetest! JMHO